KAJIAN TASAWUF:
Usaha Menghindarkan Diri dari Krisis Idealisme Islam
Istilah tasawuf di Indonesia mengemuka sebagai sebuah pendekatan pemahaman keagamaan tingkat tinggi. Dalam artian, kajian tasawuf hanya dapat dimengerti oleh kalangan tertentu (elite Islam) saja. Dalam terminologi berbeda, tasawuf malah dianggap sebagai sebuah penyimpangan ajaran. Karena oleh beberapa kalangan, tasawuf dipraktekkan sebagai khurafat atau bahkan zindiq. Sehingga tasawuf secara antagonis dipahami sebagai keilmuan agama yang tinggi atau sebaliknya hanya sebagai fanatisme yang membabi buta.
Secara psikologis, gejala tersebut mungkin dapat dijelaskan bahwa kita sedang terkepung di dalam jaman materialisme. Jaman hawa nafsu yang besar, sehingga tanpa disadari, sebenarnya kita menyimpan kerinduan ruhaniah yang membara. Namun yang masih kurang disadari adalah: bahwa masyarakat muslim Indonesia belum atau masih sedikit yang mempunyai kesadaran substansial tentang Islam. Nurcholis Madjid pernah menuturkan mengapa ia menempuh pendekatan tasawuf: “Kesadaran lahiriah perlu dilengkapi dengan kesadaran batiniah….dan untuk mencapai kesadaran substansial, bukan sekedar formal” (Gatra, edisi No.9 th.IV).
Oleh karena itu, adalah tugas para pengemban dakwah, para aktivis harokah,yang merupakan agen pendidik umat, untuk membimbing agar umat sampai kepada kesadaran substansial tersebut. Ustadz Hasan Al-Banna pernah menegaskan bahwa salah satu sendi gerakan Islam modern adalah hakikat kesufian. Ini menuntut kita untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan ruhani yang tinggi. Dan itu hanya dapat diperoleh lewat pendalaman tasawuf.
Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatur-Ruhiyah menyatakan bahwa tasawuf harus dikembalikan pada dua aspek yaitu aspek praktis dan teoretis. Dari segi praktis, ada praktik-praktik tasawuf yang sesuai dengan sunnah atau yang bertentangan. Sedangkan dari segi teoretis, ada yang berupa ilham, kasyf, dan ada yang berupa persyaratan-persyaratan metodis bagi pengejawantahan akidah dan perilaku jiwa (akhlaqun-nafs). Adapun pertentangan sekitar persoalan tasawuf bersumber dari perilaku bid’ah, kasyf, dan ilham. Maka kita harus mencari ilmu tentang perjalanan ruhani (suluk) yang benar dan memurnikan tasawuf dari kejumudan. Kedua hal ini penting agar seorang muslim tidak terjerumus dalam jeratan orang-orang bodoh atau dalam jeratan kebodohan itu sendiri.
Setiap konteks ibadah membutuhkan ilmu dlam penunaiannya, terutama ibadah yang berupa muamalah. Dalam hal ini dakwah merupakan muamalah yang paling banyak menuntut kesabaran dan ketangguhan iman. Fenomena bergugurannya para kader dakwah rupanya banyak disebabkan dari tidak kuatnya para da’i menanggung beban idealisme di tengah porak-porandanya sistem kemasyarakatan. Itulah sebabnya tasawuf merupakan perkara yang lebih besar daripada apa yang diperkirakan orang. Dengan tasawuf seorang muslim diharapkan mempunyai pijakan di atas jalan Allah dan dapat merasakan hakikat keimanan. Dengan itu pula kita dapat menghindarkan diri dari wabah krisis idealisme Islam.
Sebuah gerakan Islam selayaknya mengerahkan seluruh daya untuk menghidupkan tradisi profetik para Nabi. Dan satu-satunya yang dapat membendung jaman yang diliputi oleh hawa nafsu dan pesimisme ini adalah tasawuf. Dengannya, kalbu, ruh, jiwa, akal, pikiran, dan jasad dapat bersinergi membentuk daya juang yang luar biasa tangguh. Para aktivis dakwah adalah orang-orang yang yang dituntut untuk melaksanakan amanat ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Sungguh ini adalah tugas yang amat berat! Tak jarang dalam tugas ini seorang aktivis justru tersuruk ke pojok yang gelap. Lebih banyak lagi mereka yang akhirnya menempuh kehidupan yang serba tanggung. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam kebaikan itu dan jika ditimpa bencana berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj : 11)
Akhirnya, dakwah Islam yang sempurna harus melakukan tindak kumulatif terhadap khazanah keislaman yang murni, dimana tasawuf harus menjadi salah satu komponen dari seluruh dakwah yang benar. Sebagaimana Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan bahwa tasawuf merupakan kecenderungan dasar manusia yang dirangsang oleh akibat perjalanan hidup dan pengaruh jaman. Oleh karena itu dalam perjalanan hidup dakwahnya, para aktivis dakwah harus memanfaatkan terapi kesufian demi membentuk kelompok pewaris Nabi yang paripurna.
Wallahu A’lam bishowab
