Kamis, 02 April 2009

TOLONG, SELAMATKAN IMAN KAMI!


Hari itu, Rabu tanggal 1 April 2009, jam 17.00 alias jam lima sore, aku merasakan badanku tiba-tiba lemas. Pasalnya anakku yang nomor dua yang usianya hampir delapan tahun, belum berhasil ditemukan. Di tengah hujan yang sangat deras mengguyur kota Bandung, kemanakah gerangan dia?

Kebetulan pagi harinya kawanku baru saja mengisahkan anak bosnya yang sudah tiga tahun menghilang. Kakiku terpantek di pintu depan rumah. Setiap detik berharap suamiku muncul dengan membonceng anakku di motornya. Anak itu tidak ada ketika aku pulang kantor, dan sekarang sudah hampir maghrib. Hujan deras pula! Di benakku menari-nari bayangan trafficking. Teringat pula kisah Asep yang semula diduga korban mutilasi namun kemudian ditemukan oleh ayahnya sedang mengais sisa-sisa makanan di kereta. Terlintas kisah anak-anak yang dibrainwashing oleh manusia-manusia yang sejatinya bukanlah manusia.

Aku tak sanggup berdiri. Semua bayangan itu membuatku terduduk lemas. Bagaimana kalau semua hal itu terjadi pada anakku? Akankah ada kesanggupan bagi dia untuk menanggung semua derita? Akankah ada kesanggupan bagiku membayangkan semua yang dia deritakan? Mengapa harus ada kekejaman semodel trafficking, yang terasa selalu mengintai?

Darah sudah berkumpul semua di kepala. Detak jantung seperti palu menghantam-hantam. Sangat menyakitkan. Genangan air hampir muncrat seperti air muncrat di bunderan Monas. Ketika tiba-tiba dari ujung jalan muncul motor abu-abu dan….. ada dua orang yang menunggangnya!

Alhamdulillah…itu suami dan anakku. Hari itu berakir dengan happy ending. Peristiwa telah usai, berlalu. Namun ancaman masih tetap ada.

Baru aku bisa memahami mengapa Ya’kub sampai kehilangan penglihatan, saking tak bisa berhenti menangisi Yusuf. Tapi apa yang kira-kira dapat hilang dari diriku apabila kehilangan anak tercinta? Lebih dari itu. Lebih dari sekedar penglihatan. Aku bisa kehilangan segalanya. Penglihatan, pendengaran, bahkan kesadaran. Kurasa aku takkan sanggup menanggungkan derita seperti itu. Tapi, apa yang sebenarnya hilang dariku?

Keimanan. Sungguh itu adalah keimanan. Kalau peristiwa itu betul-betul terjadi, dan aku betul-betul hilang kesadaran, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sebenarnya menjadi wali bagi tiap-tiap jiwa? Maka benarlah Allah ketika berfirman “Apabila Istri(suami) dan anak-anakmu lebih kamu cintai daripada Allah…” “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan harta, diri, rasa takut(akan kehilangan)…..”

Sahabat…..

Hari-hari ini adalah saat kita sedang berasik masyuk dengan hiasan yang dianugrahkan Allah. Yaitu istri dan anak-anak kita. Tidak ada yang paling kita banggakan kecuali gambar-gambar mereka. Dimana-mana wajah mereka. Di dompet, di meja kantor, di dinding rumah, di facebook, di mana-mana. Tapi dimana wajah Allah?

Ingat! Ancaman masih tetap ada. Entah bencana atau kiminalitas. Semua dapat melanda kita.

Dan wanita adalah sangat lemah di hadapan buah hatinya. Dalam semua kejadian. Tsunami, situ gintung, korban kriminalitas. Betapa tidak. Anak bagi wanita adalah bagian jasad dan jiwanya. Lama kelamaan anak menjadi lebih dicintai ketimbang diri mereka. Tapi pernahkah seseorang memperhatikan, bahwa lama kelamaan juga, tanpa disadari, anak telah dicintai lebih daripada Allah? Daripada Rasulullah? Sehingga datang kepada kita rasa “berputus asa terhadap rahmat Allah?

Tolong. Waspadai keadaan ini. Yang bahkan setelah datangnya kesadaran begini, aku tetap tak sanggup menahankan derita apabila aku tak bisa mengetahui hidup matinya anakku. Apakah hilang terbawa arus danau yang tanggulnya jebol, atau terseret ombak setinggi gunung, atau dibawa lari iblis berperawakan manusia. Siapa yang bertanggung jawab memelihara ketangguhan mental dan iman kami?? Hanya kami pribadikah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar