Senin, 10 Agustus 2009

TASAWUF DARI PERSPEKTIF GERAKAN


KAJIAN TASAWUF:
Usaha Menghindarkan Diri dari Krisis Idealisme Islam

Istilah tasawuf di Indonesia mengemuka sebagai sebuah pendekatan pemahaman keagamaan tingkat tinggi. Dalam artian, kajian tasawuf hanya dapat dimengerti oleh kalangan tertentu (elite Islam) saja. Dalam terminologi berbeda, tasawuf malah dianggap sebagai sebuah penyimpangan ajaran. Karena oleh beberapa kalangan, tasawuf dipraktekkan sebagai khurafat atau bahkan zindiq. Sehingga tasawuf secara antagonis dipahami sebagai keilmuan agama yang tinggi atau sebaliknya hanya sebagai fanatisme yang membabi buta.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tasawuf sudah bisa diterima dengan lebih terbuka. Hal ini terlihat dari maraknya wacana-wacana yang bertemakan atau bermuatan tasawuf dilemparkan ke tengah masyarakat, baik melalui media cetak maupun elektronik. Khususnya menjelang datangnya bulan ramadhan, kajian-kajian tasawuf biasanya diwacanakan dengan lebih gencar. Rupanya sekarang tengah bangkit kesadaran baru, khususnya di kalangan pemuda untuk membangun penilaian mandiri secara objektif.

Secara psikologis, gejala tersebut mungkin dapat dijelaskan bahwa kita sedang terkepung di dalam jaman materialisme. Jaman hawa nafsu yang besar, sehingga tanpa disadari, sebenarnya kita menyimpan kerinduan ruhaniah yang membara. Namun yang masih kurang disadari adalah: bahwa masyarakat muslim Indonesia belum atau masih sedikit yang mempunyai kesadaran substansial tentang Islam. Nurcholis Madjid pernah menuturkan mengapa ia menempuh pendekatan tasawuf: “Kesadaran lahiriah perlu dilengkapi dengan kesadaran batiniah….dan untuk mencapai kesadaran substansial, bukan sekedar formal” (Gatra, edisi No.9 th.IV).

Oleh karena itu, adalah tugas para pengemban dakwah, para aktivis harokah,yang merupakan agen pendidik umat, untuk membimbing agar umat sampai kepada kesadaran substansial tersebut. Ustadz Hasan Al-Banna pernah menegaskan bahwa salah satu sendi gerakan Islam modern adalah hakikat kesufian. Ini menuntut kita untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan ruhani yang tinggi. Dan itu hanya dapat diperoleh lewat pendalaman tasawuf.

Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatur-Ruhiyah menyatakan bahwa tasawuf harus dikembalikan pada dua aspek yaitu aspek praktis dan teoretis. Dari segi praktis, ada praktik-praktik tasawuf yang sesuai dengan sunnah atau yang bertentangan. Sedangkan dari segi teoretis, ada yang berupa ilham, kasyf, dan ada yang berupa persyaratan-persyaratan metodis bagi pengejawantahan akidah dan perilaku jiwa (akhlaqun-nafs). Adapun pertentangan sekitar persoalan tasawuf bersumber dari perilaku bid’ah, kasyf, dan ilham. Maka kita harus mencari ilmu tentang perjalanan ruhani (suluk) yang benar dan memurnikan tasawuf dari kejumudan. Kedua hal ini penting agar seorang muslim tidak terjerumus dalam jeratan orang-orang bodoh atau dalam jeratan kebodohan itu sendiri.

Setiap konteks ibadah membutuhkan ilmu dlam penunaiannya, terutama ibadah yang berupa muamalah. Dalam hal ini dakwah merupakan muamalah yang paling banyak menuntut kesabaran dan ketangguhan iman. Fenomena bergugurannya para kader dakwah rupanya banyak disebabkan dari tidak kuatnya para da’i menanggung beban idealisme di tengah porak-porandanya sistem kemasyarakatan. Itulah sebabnya tasawuf merupakan perkara yang lebih besar daripada apa yang diperkirakan orang. Dengan tasawuf seorang muslim diharapkan mempunyai pijakan di atas jalan Allah dan dapat merasakan hakikat keimanan. Dengan itu pula kita dapat menghindarkan diri dari wabah krisis idealisme Islam.

Sebuah gerakan Islam selayaknya mengerahkan seluruh daya untuk menghidupkan tradisi profetik para Nabi. Dan satu-satunya yang dapat membendung jaman yang diliputi oleh hawa nafsu dan pesimisme ini adalah tasawuf. Dengannya, kalbu, ruh, jiwa, akal, pikiran, dan jasad dapat bersinergi membentuk daya juang yang luar biasa tangguh. Para aktivis dakwah adalah orang-orang yang yang dituntut untuk melaksanakan amanat ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Sungguh ini adalah tugas yang amat berat! Tak jarang dalam tugas ini seorang aktivis justru tersuruk ke pojok yang gelap. Lebih banyak lagi mereka yang akhirnya menempuh kehidupan yang serba tanggung. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam kebaikan itu dan jika ditimpa bencana berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj : 11)

Akhirnya, dakwah Islam yang sempurna harus melakukan tindak kumulatif terhadap khazanah keislaman yang murni, dimana tasawuf harus menjadi salah satu komponen dari seluruh dakwah yang benar. Sebagaimana Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan bahwa tasawuf merupakan kecenderungan dasar manusia yang dirangsang oleh akibat perjalanan hidup dan pengaruh jaman. Oleh karena itu dalam perjalanan hidup dakwahnya, para aktivis dakwah harus memanfaatkan terapi kesufian demi membentuk kelompok pewaris Nabi yang paripurna.

Wallahu A’lam bishowab

Senin, 25 Mei 2009

HAPALKAN AL-QUR'AN, TEMUKAN MU'JIZATNYA!

BERAPA RIBU HAFIDZ DAN HAFIDZOH YANG TERBUNUH DI GAZA,

BERAPA GELINTIR YANG BERSIAP MENGGANTIKAN MEREKA?

Serangan Israel terhadap penduduk muslim di jalur Gaza telah menjadi isu terpenting bagi dunia Islam saat ini. Informasi terakhir yang berhasil digali adalah bahwa selain ide untuk menghabisi warga Palestina untuk mencuri tanah mereka, serangan tersebut terutama dipicu oleh rasa takut yang menghantui pembesar-pembesar Israel.

Apa pasal? Ternyata orang-orang Palestina, selain masyarakat muslim yang paling banyak melahirkan doktor pada berbagai bidang kajian, juga adalah masyarakat penghapal Al-Qur’an. Sejak masa kanak-kanak, orang-orang Palestina telah ditempa untuk menjadi hafidz dan hafidzoh Al-Qur’an.

Keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki masyarakat Palestina, yang terutama didorong oleh semangat dan keyakinan beragama yang kuat inilah yang menjadi sumber kekhawatiran dan ketakutan terbesar pemuka-pemuka Yahudi.

Keyakinan Yahudi Akan Mu’jizat Al-Qur’an

Al-Qur’an telah mensinyalir bahwa orang-orang Yahudi telah mengenal Muhammad bahkan lebih baik daripada mereka mengenal anak sendiri. Lalu apa yang mendasari penolakan mereka terhadap Muhammad? Tak lain adalah fanatisme ras yang membabi-buta. Sama sekali tanpa alasan rasional, baik ’alamiyah pun Ilahiyah.

Sehingga sebenarnya, mereka sama sekali tidak meragukan kebenaran Al-qur’an. Mereka telah mengetahui kebenaran itu, tapi dengan penuh kesadaran menolaknya. Mereka sangat gigih menentang orang-orang yang membela Al-Qur’an. Dan oleh karenanya mereka sangat was-was mengetahui betapa beribu-ribu penghapal Al-Qur’an terus menghidupkan tradisi mereka di tanah Palestina. Para balita Palestina langsung dikenalkan nama Allah seketika mereka dilahirkan. Dan menjelang usia sepuluh tahun, rata-rata dari mereka sudah hafal setengah Al-Qur’an, bahkan ada yang sudah hafidz Al-Qur’an.

Sesungguhnya, para pembesar Yahudi yang mendapat justifikasi dari para rabi mereka, tidak dapat memungkiri mu’jizat yang pernah diturunkan kepada Nabi merka, Musa a.s. Itulah yang mereka takutkan dari Al-Qur’an dan para pembelanya. Bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang mu’jizatnya dapat terjadi kapan saja untuk membela orang-orang yang menyanjungnya. Karena mu’jizat Al-Qur’an akan datang dengan seringnya kalimah-kalimah nya dibaca dan diperdengarkan.

Rupanay pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu diulang-ulang inilah yang telah sampai kepada telinga Yahudi. Sedangkan bilamana pintu hati telah ditutup rapat, takkan pernah nur hidayah sudi datang menyapa. Alih-alih mendapat hidayah, orang-orang yang membenci Islam, kitab sucinya, dan para penganutnya, malah menggempur Jalur Gaza demi menghilangkan, menghentikan, melantunnya ayat-ayat suci. Mereka takut mu’jizat Al-Qur’an akan datang berupa siksa terhadap mereka. Oleh karena itu merka tergopoh-gopoh ingin menyegerakan terhapusnya komunitas muslim Palestina.

Siapa Yang Telah Bersiap Menggantikan Para Hafidz dan Hafihzoh Yang Gugur?

Sekarang, ribuan hafidz dan hafidzoh Palestina telah berguguran. Lalu apa yang kita lakukan? Tidakkah kita, yang mengaku muslim, lebih meyakini mu’jizat Al-Qur’an di banding orang-orang Yahudi? Lalu mengapa dari hari ke hari kita semakin jauh dari Al-Qur’an?

Maka MARILAH! Marilah KITA sejak detik ini juga menanamkan tekad untuk lebih dekat kepada Al-Qur’an. Jangan ada seharipun terlewat tanpa lantunan ayat suci terlepas dari bibir kita. Tak ada waktu jeda lagi tanpa usaha untuk mengingat-ingat ayat suci. Jangan ada alasan lagi. Entah waktu, usia, pun bahasa. Karena Allah telah menetapkan Al-Qur’an sebagai mu’jizat umat Muhammad. Karena rezeki ilmu adalah apa yang Allah tanamkan ke dalam dada kita. Kewajiban mahluq hanyalah berusaha, bukan mendapatkan. Maka sekali lagi : MARI KITA MENGHAPAL AL-QUR’AN!

Kamis, 02 April 2009

TOLONG, SELAMATKAN IMAN KAMI!


Hari itu, Rabu tanggal 1 April 2009, jam 17.00 alias jam lima sore, aku merasakan badanku tiba-tiba lemas. Pasalnya anakku yang nomor dua yang usianya hampir delapan tahun, belum berhasil ditemukan. Di tengah hujan yang sangat deras mengguyur kota Bandung, kemanakah gerangan dia?

Kebetulan pagi harinya kawanku baru saja mengisahkan anak bosnya yang sudah tiga tahun menghilang. Kakiku terpantek di pintu depan rumah. Setiap detik berharap suamiku muncul dengan membonceng anakku di motornya. Anak itu tidak ada ketika aku pulang kantor, dan sekarang sudah hampir maghrib. Hujan deras pula! Di benakku menari-nari bayangan trafficking. Teringat pula kisah Asep yang semula diduga korban mutilasi namun kemudian ditemukan oleh ayahnya sedang mengais sisa-sisa makanan di kereta. Terlintas kisah anak-anak yang dibrainwashing oleh manusia-manusia yang sejatinya bukanlah manusia.

Aku tak sanggup berdiri. Semua bayangan itu membuatku terduduk lemas. Bagaimana kalau semua hal itu terjadi pada anakku? Akankah ada kesanggupan bagi dia untuk menanggung semua derita? Akankah ada kesanggupan bagiku membayangkan semua yang dia deritakan? Mengapa harus ada kekejaman semodel trafficking, yang terasa selalu mengintai?

Darah sudah berkumpul semua di kepala. Detak jantung seperti palu menghantam-hantam. Sangat menyakitkan. Genangan air hampir muncrat seperti air muncrat di bunderan Monas. Ketika tiba-tiba dari ujung jalan muncul motor abu-abu dan….. ada dua orang yang menunggangnya!

Alhamdulillah…itu suami dan anakku. Hari itu berakir dengan happy ending. Peristiwa telah usai, berlalu. Namun ancaman masih tetap ada.

Baru aku bisa memahami mengapa Ya’kub sampai kehilangan penglihatan, saking tak bisa berhenti menangisi Yusuf. Tapi apa yang kira-kira dapat hilang dari diriku apabila kehilangan anak tercinta? Lebih dari itu. Lebih dari sekedar penglihatan. Aku bisa kehilangan segalanya. Penglihatan, pendengaran, bahkan kesadaran. Kurasa aku takkan sanggup menanggungkan derita seperti itu. Tapi, apa yang sebenarnya hilang dariku?

Keimanan. Sungguh itu adalah keimanan. Kalau peristiwa itu betul-betul terjadi, dan aku betul-betul hilang kesadaran, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sebenarnya menjadi wali bagi tiap-tiap jiwa? Maka benarlah Allah ketika berfirman “Apabila Istri(suami) dan anak-anakmu lebih kamu cintai daripada Allah…” “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan harta, diri, rasa takut(akan kehilangan)…..”

Sahabat…..

Hari-hari ini adalah saat kita sedang berasik masyuk dengan hiasan yang dianugrahkan Allah. Yaitu istri dan anak-anak kita. Tidak ada yang paling kita banggakan kecuali gambar-gambar mereka. Dimana-mana wajah mereka. Di dompet, di meja kantor, di dinding rumah, di facebook, di mana-mana. Tapi dimana wajah Allah?

Ingat! Ancaman masih tetap ada. Entah bencana atau kiminalitas. Semua dapat melanda kita.

Dan wanita adalah sangat lemah di hadapan buah hatinya. Dalam semua kejadian. Tsunami, situ gintung, korban kriminalitas. Betapa tidak. Anak bagi wanita adalah bagian jasad dan jiwanya. Lama kelamaan anak menjadi lebih dicintai ketimbang diri mereka. Tapi pernahkah seseorang memperhatikan, bahwa lama kelamaan juga, tanpa disadari, anak telah dicintai lebih daripada Allah? Daripada Rasulullah? Sehingga datang kepada kita rasa “berputus asa terhadap rahmat Allah?

Tolong. Waspadai keadaan ini. Yang bahkan setelah datangnya kesadaran begini, aku tetap tak sanggup menahankan derita apabila aku tak bisa mengetahui hidup matinya anakku. Apakah hilang terbawa arus danau yang tanggulnya jebol, atau terseret ombak setinggi gunung, atau dibawa lari iblis berperawakan manusia. Siapa yang bertanggung jawab memelihara ketangguhan mental dan iman kami?? Hanya kami pribadikah?